Marsigit Daya Matematika 2020 - Melania : Refleksi ke-10: Berdaya Matematika dengan Adventure Based Learning for Mathematic Education
What
If Learning Mathematics Using Adventure Based Learning
Pendahuluan
Dunia
pendidikan sangatlah erat kaitannya dengan hubungan antara seorang pendidik,
perserta didik, pemerintah, dan masyarakat. Dalam hal ini seseorang yang
bertidak sebagai pendidik adalah seorang guru, sedangkan peserta didik adalah
seorang siswa. Tentunya dunia pendidikan memliki tujuan yang ingin dicapai.
Pendidikan pastilah ingin membuat siswa mendapatkan ilmu pengetahuan yang kelak
dapat menjadi bekal mencapai cita-cita yang diinginkan serta dapat bermanfaat
untuk lingkungan di sekitarnya.
Bukan
hal yang mudah dalam meraih arahan yang baik dalam dunia pendidikan. Agar dapat
meraih arahan yang baik dalam pendidikan membutuh usaha keras dan sinergi baik
dari semua pihak (siswa, guru, pemerintah, dan masyarakat). Selain itu, akan
menjadi tugas berat bagi seorang guru karena menjadi tumpuan dari sistem
pendidikan yang diharapkan dapat mencerdaskan kehidupan anak bangsa.
Seiring
perkembangan zaman, dunia pendidikanpun terus mengalami perkembangan dari tahun
ke tahun. Perkemabangan tersebut anatar lain yaitu perkembangan kurikulum,
media pembelajaran, strategi pembelajaran, model, serta metode. Oleh karen itu,
semakin berkembangnya zaman guru pun dituntut untuk selalu memberikan inovasi
dalam pembelajaran.
Banyak
siswa masih mengangap matematika merupakan pembelajaran yang sulit dan tidak
menyenangkan. Sehingga, perlu adanya transformasi pebelajaran matematika yang
lebih membuat siswa tertarik atau tidak mebuat bosan dan sedikit demi sedikit
merubah paradigma bahwa matematika merupakan pembelajaran yang sulit untuk
dipahami.
Salah
satu penyebab matapelajaran matematika dirasa kurang mampu untuk mengerti dan
tidak menyenangkan untuk siswa adalah bagaimana proses pembelajaran matematika
yang di digunakan oleh guru. Saat ini, pebelajaran matematika yang dilaksanakan
di sekolah sebagian besar masih bersifat konvensional. Pembelajaran masih
terbatas dilakukan di dalam kelas dan terfokus dengan guru. Padahal, guru dapat
melakukan inovasi pembelajaran dengan mengajak siswa belajar di luar kelas.
Diperlukan
pembelajaran yang tidak kaku di dalam kelas seperti tidak hanya membaca buku
atau materi ataupun hanya mendengarkan guru di dalam kelas menjelaskan materi
akan tetapi diperlukan interaksi dan terketerlibatan langsung dalam menemukan
penyelesian dari sebuah permasalahan yang diberikan. Usaha yang dapat dilakukan
oleh guru adalah melakukan pembelajaran di luar kelas dengan bermain dan
membuat permainan dimana setiap siswa harus bekerjasama dalam sebuah tim untuk
menyelesaikan masalah yang dikemas dalam sebuah perulangan yang telah dirancang
untuk diselesiakan. Petualangan dapat memberi kesempatan siswa untuk belajar
melalui hal yang telah dilaluinya. Sehingga, siswa mampu menciptakan soft skill seperti kemampuan berpikir,
analisis masalah, keterampilan pemecahan masalah dan pengembangan kepribadian.
Dengan demikian diharpakan dengan adanya keterlibatan siswa dalam menyelesaikan
sebuah permasalahan yang dikemas dalam sebuah petualangan membuat siswa tidak
merasa jenuh dan tertarik dalam mengikuti kegiatan belajar. Hal tersebut dapat
membuat siswa mudah dalam menangkap materi yang diberikan dan tidak lagi
menganggap mateamatika merupakan pembelajaran yang sulit dan membosankan. Model
pembelajaran petulangan diluar kelas salah satuanya adalah Adventure Based Learning atau pembelajaran berbasis petualangan.
Apa itu Adventure Based Learning?
Tentunya
belajar dapat dilakukan di mana saja dan tanpa adanya batasan waktu. Belajar
bukan saja dapat dilaksanakan pada ruangan di sebuah gedung sekolah namun bisa
juga dilaksanakan pada luar ruang gedung sekolah. Belajar di luar kelas yang
melibatkan aktivitas fisik dapat membuat siswa memiliki pengalaman fisik
sehingga terjadi proses refleksi untuk mengembangkan keterampilan sosial.
Proses reflesi yang terjadi setelah aktifitas fisik idelanya akan menyerupai
pendekatan yang berpusat pada siswa. Dimana siswa akan mulai mennganalisis
masalah yang diberikan kemudiana siswa
akan mencari ide-ide dan dialog siswa akan terarah membentuk arahan atau topik
dikusi untuk menyelesiakan masalah yang diberikan [5].
Pembelajaran
yang terdiri dari aktifitas fisik yang dirancang sedemikan menjadi sebuah
pembelajaran yang terstruktur dengan suatu refleksi dapat membatu perkembangan
kepribadaian dan sosial siswa. Banyak manfaat yang dapat diberoleh seperti memberikan
kemampuan kepada siswa untuk mengontrol hasil pembelajaran yang ia lakukan.
Hasil pembelajaran yang dihasilkan seperti halnya kemampuan untuk kerjasama,
komunikasi, kepercayaan diri, dan penyelesian masalah [1].
Aktifitas
pengalaman fisik dengan refleksi untuk pengembangan kempuan soial jika di
kaitkan dengan pembelajaran, dapat dilakukan dengan metode pembelajaran dengan
pengalaman atau petulangan. Dalam hal ini, siswa diberikan petulangan untuk
menyelesaikan persoalan. Namun, tidak hanya sekedar menyelesaikan permasalahan,
siswa dituntut untuk beradaptasi dan bekerjasama dengan kelompoknya untuk
mendapatkan solusi sehingga dapat menyelesaikan petualangan yang telah
dirancang demikian rupa. Pembelajaran dimaksud adalah pembelajaran berbasis petualangan
(Adventure Based Learning) [5].
Pengalaman
belajara yang dilakukan secara langsung, aktif, serta menarik dimana melibatkan
secara keseluruhan dan memiliki konsekuensi yang nyata. Pembelajaran tersebut
dirancang secara terurut dan utuh yang meilbatkan aktifitas fisik. Hal tersebut
dapat dinyatakan sebagai suatu pendidikan yang berdasarkan atas petualangan[4].
Pembelajaran
berbasis petulangan didasarkan pada teori belajar dengan pengalaman dan
pembelajaran penemuan [4]. Pembelajaran berbasis petualangan ini memberikan
pengalaman di dunia nyata secara langsung kepada siswa. Pembelajaran semacam
ini dapat menghasilkan lingkungan kolaboratif yang digunakan pada saat proses
belajar dan menajar.
Pembelajaran
dengan sebuah tindakan atau belajar sambil melakukan dapat diartikan sebagai experinetal learning. Dengan sebuah
pengalaman saja tidak dapat dikatakan cukup sebagai sebuah pembelajaran
langung. Tetapi ada tahapan dimana sesorang harus mengintegrasikan pengetahuan
lama atau sebelumnya yang telah ia peroleh dengan pengetahuan baru dengan
proses refleksi. Refleksi inilah yang merubah pengalaman menjadi pembelajaran
pengalaman yang lebih bermakna [6].
Urutan dan Aspek Adventur Based Learning
Dalam
kegiatan pembelajaran tentunya memiliki urutan dan tujuannya masing- masing
yang ingin dicapai. Begitu pula dengan pembelajaran berbasis petualangan.
Terdapat urutan dalam pembelajaran berbasis petulangan yang disengaja dibuat
untuk mendorong perkembangan kepribadian siswa dan sosisal dari siswa. Urutan
yang dibuat dalam kegiatan akan melibatkan permainan serta inisiatif siswa yang
dibuat sedemikain sehingga membuat siswa aktif bergerak baik secara fisik
maupun pemikiran. Uturan yang dilakukan dapat melalui komunikasi, kerja sama,
kepercayaan, serta pada akhirnya dapat menyelesaikan pemasalahan awal yang
diberikan [7].
Adventur Based Learning memiliki aspek penting yaitu kegiatan tanya jawab. Tanya jawab
merupakan proses dimana para siswa sadar sebagai anggota kelompok dan memahami
pengalaman yang mereka peroleh dari kegiatan Adventur Based Learning. Proses ini terjadi karena adanya relfeksi
terbimbing. Selain adanya proses kegiaan terbimbing proses tersebut harus
mengasilkan pengetahuan yang dapat ditransfer ke dareh lain yang bersumber dari
aktifitas kehidupan kelompok [7] .
Proses
tanya jawan yang berpusat pada siswa pastilah membawa dampak positif. Proses
tanya jawab merupakan proses yang dirancang untuk membuat siswa merencanakan,
merefleksikan, menggambarkan, menganalisis, dan berkomunikasi tentang
pengalaman yang diperoleh. Proses ini terjadi kapan saja dan dimana saja, baik
sebelum maupun sesudah kegiatan. Dalam tanya jawab terjadi pentransferan ilmu
dalam kehidupan sehari-hari. Proses tanya jawab yang berpusat pada siswa dapat
mengakibatkan siswa [1]:
a. Merasa berbicara dengan lebih bebas
diantara para siswa untuk membahas permasalahan yang diberikan
b. b. Memiliki kendali yang lebih besar
atas percakapan tanya jawab yang berlangsung pada proses pembelajaran student center
c. Cenderung mengambil sebuah
keputisan bukan karena perintah atau arahan dari guru namun atas keamuannya sendiri.
Prinsip-Prinsi Adventur Based Learning
Adventur Based Learning dapat diimplementasikan dalam metode pembelajaran di luar kelas, berbasis proyek, teknologi, virtual atau kombinasi dari metode tersebut. Adventur Based Learning memiliki beberapa prinsip yang berhubungan yaitu [3] :
• Kurikulum yang digunakan berbasis penelitian dan penyelidikan.
• Peluang digunakan untuk kolaborasi dan interaksi antara partisipan seperti, siswa, guru, pakar, dan konten.
• Dapat meggunakan bantuan kecanggihan teknologi seperti internet untuk menyampaikan kurikulum dan lingkungan belajar.
• Pemilihan tepat, waktu, media dan teks dari lapangan untuk meningkatkan kurikulum dan hasil belajar.
• Waktu pebelajaran yang harus disinkronkan.
• Pedoman pedagogis untuk implementasi kurikulum dan lingkungan pembelajaran online.
• Pendidikan berbasis petualangan.
Manfaat dan Tujuan Adventur Based Learning
Setiap
pembelajaran tentunya memiliki manfaat yang diingkan untuk dicapai. Manfaat
yang ingin di capai tentunya merupakan manfaat positif atas kegiatan yang sudah
dirancang sedemikian rupa. Pembelajaran yang menyenangkan tentunya akan
mendapatkan respon positif dari siswa maupun guru sebagai pengajar.
Adventure identik dengan eksporasi, tantangan, dan resiko. Petulangan berarti
menemukan suatu hal dan mendorong aktivitas fisik ataupun perasaan emosional.
Petualangan akan membuat sesoarang merasa senang. Ketika seseorang merasa
senang maka akan timbul motivasi intrinsik dalam dirinya [2].
Suasana
yang menyenangkan dapat membatu penerapan kebiasaan baru yang diberikan. Ketika
siswa mengalami sebuah kesenangan atau ketertarikan terhadap pelajaran atau
materi pelajaran dapat memotivasi siswa tersebut untuk terlibat kegiatan-
kegiatan tersebut. Motivasi tersebut terbentuk walaupun siswa tersebut
sebelumnya belum ada pengetahuan awal tentang suatu hal atau materi yang diberikan.
Mengembangakan atau
menumbuhkan kepribadian serta mengembangkan sosial siswa merupakan tujuan
pembelajaran ini. Perkembangan tersebut dilakukan melalui peningkatan
kepercayaan diri, harga diri, kesadaran diri, keyakinana atau kepercayaan,
keterampilan dalam hal komunikasi, dan kerja sama. Untuk menumbuhkan
kepribadian serta mengembangkan sosial siswa dapat pula dilakukan pula melalui
ketrampilan dalam memecahkan sebuah permasalahan yang diberikan [9].
Adventur Based Learning berfokus pada pengembangan hungan intrapersonal dan interpersonal dari
siswa. Bagaimana fungsi dari dalam diri siswa, seperti bagaimana membangun
konsep diri, self-efficacy dan spiritualitas merupakan hungungan intrapersonal.
Sedangkan bagaimana fungsi siswa dalam kegiatan berkelompok termasuk
komunikasi, keja sama, kepercayaan, kepemimpinan, resolusi dalam memecahkan
konfilik dalam kelompok, pemecahan masalah, dan lain sebagaimnya merupakan
contoh dari hubungan intrepersonal [1].
Adventur Based Learning Dalam Pendidikan
Matematika
Pembelajaran
ini membuat kebaharuan suatu pembelajaran untuk mendukung konsep bahwa siswa
atau peserta didik dapat belajar secara efektif ketika mereka melakukan
kegiatan yang mereka anggap menyenangkan. Ketika siswa merasa senang maka siswa
tersebut akan tertarik pada apa yang sedang dipelajari dan kemudian
pembelajaran akan menjadi pembelajaran yang aktif, siswa mampu merasakan
manfaat apa yang telah mereka pelajari, siswa mampu mengimplementasikan
pegalaman yang sudah dialami, dan pada akhirnya mampu membuat keterkaitan
terhadapa pembelajaran lain atau pada situasi kehidupan yang lainnya.
Selama
ini banyak anggapan bahwa matematika merupakan pembelajaran yang susah untuk
dipahami. Salah satu penyebabnya adalah model pembelajaran yang kurang menarik
bagi siswa. Adventure Based Leraning diharakan
membuat siswa tertarik dalam pembelajaran matematika. Sehingga, siswa tidak
lagi merasakan bahwa matematika sebagai sesuatu yang tidak realitas dan sukar
[4].
Pembelajaran
ini merubah paradigma bahwa pembelajaran matematika yang tadinya hanya
dilakukan didalam ruang gedung sekolah saja namun dapat terjadi di luar ruang
gedung sekolah ataupun alam terbuak. Hal tersebut akan menberikan kesempatan
kepada siswa terlibat secara langsung. Pembelajaran bebasis petualangan ini
akan meberikan kesempatan kepada siswa untuk menikmati proses pembelajaran yang
sedang mereka alami dengan kegiatan invesigasi. Kegiatan inversigasi ini
dilaksanakan dengan membentuk sebuah grup yang beranggotakan minimal adalah dua
orang. Kegiatan investigasi ini dapat juga akan meningkatkan kemampuan
kepemimpinan mereka. Jadi, selain belajar matematika mereka dapat belajar hal
lain yang berkaitan dengan intrapersonal dna interpersonal merka.
Kesimpulan
Pembelajaran
matematika memerlukan sebuah inovasi agar paradigma bahwa matematika itu sulit
dapat berubah. Metode aktivitas yang dapat dilaksanakan yaitu pembelajaran
berbasis petualangan. Kegiatan tersebut terdiri dari aktifitas fisik yang
dirancang sedemikan menjadi sebuah pembelajaran yang terstruktur dengan suatu
refleksi yang dapat membatu perkembangan kepribadaian dan sosial siswa. Ketika
siswa sudah merasa senang dengan pembelajaran matematika, secara otomatis siswa
akan termotivasi untuk belajar walaupun belum memiliki pengalaman atau
pengetahuan awal tentang materi yang sedang diberikan. Selain itu, pembelajaran
berbasis petualangan ini memiliki andil dalam mengembangan intarapersonal dan
interpersonal siswa.
Sudah
menjadi tugas guru untuk selalu melakukan sebuah inovasi pembelajaran karena
zaman selalu berkembang. Perkembangan pendidikan akan kearah yang lebih baik
ketika semua komponen dalam pendidikan memiliki sinergi yang baik untuk selalu
merevisi hal-hal yang perlu diperbaiki dan selalu memberikan inovasi baru.
Referensi:
[1]
A. B. Learning, S. What, N. What, and A. B.
Learning, “Adventure Based Learning as a Curriculum Model,” no. c, 2004.
[2]
C. Bisson and J. Luckner, “Fun in Learning: The
Pedagogical Role of Fun in Adventure Education,” J. Exp. Educ., vol. 19, no. 2, pp. 108–112, 1996, doi:
10.1177/105382599601900208.
[3]
Mohd Afifi Bahurudin Setambah, Nor’ain Mohd Tajudin,
and Mazlini Adnan, “Impact of Statistic Adventure Based Learning Module on
Students Achievement,” Imp. J.
Interdiciplinary Res., vol. 2, no. 11, pp. 1432–1437, 2016.
[4]
Mohd Afifi Bahurudin Setambah, Nor’ain Mohd Tajudin,
Mazlini Adnan, and Muhamad Ikhwan Mat Saad, “Adventure Based Learning Module in Statistics :
Development
and Impact on Students Achievement , Critical Thinking and Leaderships Skills,”
Int. J. Acad. Res. Bus. Soc. Sci.,
vol. 7, no. 2, pp. 1–11, 2017, doi: 10.6007/IJARBSS/v7-i2/2678.
[5]
P. T. Stuhr and S. Sutherland, “Undergraduate
perceptions regarding the debrief process in adventure-based learning:
Exploring the credibility of the Sunday Afternoon Drive debrief model,” J. Outdoor Recreat. Educ. Leadersh.,
vol. 5, no. 1, pp. 18–36, 2013, doi: 10.7768/1948-5123.1151.
[6]
R. L. Quezada
and R. W. Christopherson, “Adventure-Based Service Learning: University
Students’ Self-Reflection Accounts of Service with Children,” J. Exp. Educ., vol. 28, no. 1, pp. 1–16,
2005, doi: 10.1177/105382590502800103.
[7]
S. Sutherland, J. Ressler, and P. T. Stuhr,
“Adventure-based Learning and Reflection: The Journey of One Cohort of Teacher
Candidates,” Int. J. Hum. Mov. Sci.,
vol. 5, no. 2, pp. 5–24, 2011.
[8]
S. Sutherland and P. T. Stuhr, “Reactions to
implementing adventure-based learning in physical education,” Sport. Educ. Soc., vol. 19, no. 4, pp.
489–506, 2014, doi: 10.1080/13573322.2012.688807.
[9]
S. Sutherland, P. T. Stuhr, and S. Ayvazo, “Learning
to teach: pedagogical content knowledge in adventure-based learning,” Phys. Educ. Sport Pedagog., vol. 21, no.
3, pp. 233–248, 2016, doi: 10.1080/17408989.2014.931365.
Kalo di tempat sy, pembelajaran onlen yg susah orangtuanya . *mereka merasa kesusahan untuk menjelaskan ke anak . Mostly ortunya juga rada gaptek jd y blom bisa maksimal
BalasHapus