Marsigit Daya Matematika - Melania : Refleksi ke-8 : Pembelajaran Online

Pembelajaran Online

            Pada zaman moderen ini, salah satu kemampuan yang hendaknya di miliki olah siswa adalah literasi digital. Literasi digital adalah kesadaran, sikap, dan kemampuan individu untuk secara tepat menggunakan alat dan fasilitas digital untuk mengidentifikasi, mengakses, mengelola, mengintegrasikan, mengevaluasi, menganalisis, dan mensintesis sumber daya digital, membangun pengetahuan baru, membuat ekspresi media, dan berkomunikasi dengan orang lain, dalam konteks situasi kehidupan tertentu, untuk memungkinkan tindakan sosial yang konstruktif, dan untuk merefleksikan proses yang terjadi (Martin dalam Koltay, 2011).  Salah satu upaya untuk mengikuti perkembangan era digital  adalah dengan adanya pembelajaran online.
          Pembelajaran online adalah kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (internet, LAN, WLAN) sebagai metode penyampaian, interaksi dan fasilitas serta didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar lainnya (Brown dalam Waryanto, 2006). Dapat dikatakan pula pembelajaran online merupakan konsep makro yang mencakup lingkungan belajar online dengan bantuan seluler (Álvarez Jiménez et al., 2015). Tentunya pembelajaran online tidak hanya sekedar presentasi dan pengiriman materi menggunakan web, tetapi siswa dan pembelajaran harus menjadi fokus pembelajaran online.
          Dalam sebuah pembelajaran yang dirancang tentunya memiliki syarat khusus sebagai ciri khas dari pembelajaran tersebut. Begitu pula dengan pembelajaran online. Ada tiga hal penting sebagai persyaratan kegiatan belajar elektronik (e-learning), yaitu (Hartanto, 2016): (a) kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan, dalam hal ini dibatasi pada penggunaan internet, (b) tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar, misalnya External Harddisk, Flashdisk, CD-ROM, atau bahan cetak, dan (c) tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan. 
          Selain memiliki ciri khas, pembelajaran online adapun memiliki beberapa metode yang digunakan. Metode pembelajaran online yang akan digunakan disesuaikan dengan fungsi yang dipilih. Ada beberapa metode yang digunakan dalam pembelajaran online. Metode pembelajaran online yang akan digunakan disesuaikan dengan fungsi dipilih. Fungsi pembelajaran online antara lain seperti yang dikemukakan oleh Siahaan (dalam Hendrastomo, 2017) yaitu :
a)    Suplemen (Tambahan)
Dikatakan berfungsi sebagai suplemen, apabila siswa mempunyai kebebasan memilih, apakah yang akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi siswa untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, siswa yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan. 
b)    Komplemen ( Pelengkap)
Dikatakan berfungsi sebagai komplemen apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) atau remedial bagi siswa di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. 
c)      Substitusi (Pengganti)
Sebagai substitusi jika pembelajar online diprogramkan untuk menggantikan materi pembelajaran yang diterima siswa di kelas. 
          Pembelajaran di Indonesia mengalami perubahan pada tata cara belajar di tingkat SD, SMP, dan SMA. Hal tersebut sesuai Surat Edaran No.4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) yang dikeluarkan oleh kemendikbud pada tanggal 24 Maret 2020. Salah satu aturan yang termuat dalam surat edaran  tersebut adalah proses belajar di laksanakan di rumah.  Keputusan tersebut dibuat untuk memprioritaskan kesehatan para siswa, guru dan seluruh warga sekolah dengan konsep belajar jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh atau distance learning dapat dilakukan dengan memanfaatkan internet (Waryanto, 2006). 
          Meskipun dengan menggunakan konsep belajar jarak jauh, tujuan kurikulum tetap harus tercapai. Pembelajaran online dirancang untuk menggantikan materi pembelajaran yang seharusnya diterima siswa di kelas sehingga tujuan kurikulum pun tetap dapat tercapai. Dengan demikian, penggunaan teknologi memungkinkan terjadinya pembelajaran secara online, bahkan dengan teknologi tersebut memungkinkan guru untuk tetap bisa melakukan penilaian, evaluasi, dan kegiatan yang terkait dengan administrasi.
            Salah satu platform pembelajaran daring yang disarankan oleh pemerintah melalui Kemendikbud yang dapat digunakan terkait kebijakan belajar dari rumah demi mencegah pandemi Covid-19 di Indonesia yaitu Google ClassroomGoogle Classroom adalah aplikasi yang dikembangkan oleh Google Apps For Education (GAFE). Pemanfaatan Google Classroom sendiri dapat melalui multiplatform yakni dapat melalui komputer dan dapat melalui gawai (Sabran & Sabara, 2019). Sedangkan menurut Soni (2018) Google Classroom adalah aplikasi yang dikhususkan untuk media pembelajaran online atau istilahnya adalah kelas online sehingga dapat memudahkan guru dalam membuat, membagikan serta mengelompokkan setiap tugas tanpa menggunakan kertas lagi. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Dhia (2017) bahwa Google Classroom mampu menjadi sarana distribusi tugas, submit tugas bahkan menilai tugas-tugas yang dikumpulkan melalui dunia maya. Dengan demikian penggunaan Google Classroom dalam pembelajaran online tidak hanya memfasilitasi guru dalam pemberian materi saja namun evaluasi pembelajaran pun juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan fitur Google Classroom

Referensi:
Álvarez Jiménez, D., Moreno Mediavilla, D., Orduna Portús, P., Pascual López, V., & San Vicente Vicente, F. J. 2015. Maths: from distance to e-learning. International Journal of Interactive Multimedia and Artificial Intelligence3(4), 5. https://doi.org/10.9781/ijimai.2015.341
Dhia, G. R. P. 2017. “Communication Effectiveness of Online Media Google Classroom In Supporting The Teaching and Learning Process At Civil Engineering University of Riau”. JOM FISIP. Volume: 4, Nomor: 1
Hartanto, Wiwin. 2016. “Penggunaan E-Learning Sebagai Media Pembelajaran”. Jurnal Pendidikan Ekonomi 10(1): 1–18.
Hendrastomo, Grendi. 2017. “ Pengembangan E-Learning Sebagai Alternatif Model Pembelajaran Oleh: Grendi Hendrastomo.”: 1–16.
Koltay, T. (2011). The media and the literacies: Media literacy, information literacy, digital literacy. Media, Culture and Society33(2), 211–221. https://doi.org/10.1177/0163443710393382
Sabran, and Edy Sabara. 2019. “Keefektifan Google Classroom Sebagai Media Pembelajaran.” Diseminasi Hasil Penelitian melalui Optimalisasi Sinta dan Hak Kekayaan Intelektual: 122–25.
Soni, Hafid, A., Hayami, R., Fatma, Y., Wenando, F. A., Amien, J. Al, … Hasanuddin. (2018). Optimalisasi Pemanfaatan Google Classroom Sebagai Media Pembelajaran Di SMK Negeri 1 Bangkinang. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI2(1), 17–20. Diambil dari https://www.researchgate.net/publication/331703602%0AOPTIMALISASI
Waryanto, Nur Hadi. 2006. On-Line Learning Sebagai Salah Satu Inovasi Pembelajaran. Pythagoras 2(1): 10–23. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132304807/Online Learning sebagai Salah Satu Inovasi Pembelajaran.pdf.

Komentar

  1. thank you for sharing

    BalasHapus
  2. Pembelajaran online memang agak berat menurut sya sebagai guru....
    Secara teori memang dituntut untuk kkm bagi siswa, tapi melihat situasi sekarang menjadi tidak memungkinkan dengan banyaknya keterbatasan siswa dan guru....
    Googleclassroom memang bagus...fitur2nya pun sangat mendukung untuk evaluasi pembelajaran,,,hanya saja karna siswa blm terlalu mengenal, jadi serasa menyulitkan,,,apalagi kalau sudah membahas kuota, jaringan yg buruk karna tinggal di pegunungan, tidak pnya hp dll.

    BalasHapus
  3. Pembelajaran Online.
    Sebagai seorang guru di daerah pegunungan, sangat kesulitan dalam pembelajaran ini.
    Faktor yang paling terlihat adalah:
    1. Dari seluruh siswa yang memiliki gadget atau pc hanya 35%.
    2. Tidak terjangkaunya akses internet ke daerah tersebut.
    3. Ketidak pahaman orang tua terhadap pembelajaran secara daring.
    ______
    Pada akhirnya kami memutuskan setiap wali kelas melakukan home visit kepada siswa yang blm terjaring melalui online.

    BalasHapus
  4. Saya pembelajaran di kelas tidak mudah paham, sekarang dengan adanya kelas online saya semakin tidak paham

    BalasHapus
  5. Model belajar onlen somehow emg enak . Tp ternyata.. masih asik kalo belajar di kelas .

    BalasHapus
  6. Pembelajaran online (daring) membutuhkan Sarana maupun prasarana yang harus disediakan baik oleh disease maupun guru hal ini merupakan masalah terkait kesamaan keadaan dalam kehidupan. Belum tentu setiap siswa dan guru mempunyai fasilitas tersebut. Untuk membranes dibutuhkan rasa peduli terhadap sesama bisa berupa kas urunan untuk siswa yg kurang maupun peminjaman Sarana belajar

    BalasHapus
  7. Iya, google classroom merupakan salah satu platform pembelajaran sangat membantu guru dan siswa untuk melaksanakan kbm online terutama masa-masa pandemi covid-19 ini. Dan kendala yang sering muncul adalah ketika siswa tidak ada sinyal n kuota.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Marsigit Daya Matematika 2020 - Melania : Refleksi ke-9 : Berdaya Matematika dalam Pemahaman Matematis dengan Pembelajaran Online

Marsigit Daya Matematika 2020 Melania : Refleksi ke-6 : Landasan Filsafat Kurikulum

Marsigit 2020 Daya Matematika - Melania | Refleksi ke-1 : Mengenal "Fallibism"