Marsigit Daya Matematika 2020 Melania : Refleksi ke-6 : Landasan Filsafat Kurikulum


1.        Pengertian Kurikulum

a.       Secara Etimologi
Secara etimologis, istilah kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya “pelari” dan curene yang berarti “tempat berpacu” (Subandijah dalam Jaunda, 2014). Asal usul kurikulum sebenarnya berasal dari dunia olah raga pada zaman Rumawi Kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari mulai dari garis start sampai garis finish. Kurikulum berarti suatu jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dari garis start sampai dengan garis finish untuk memperoleh medali atau penghargaan (Sujanah dalam Jaunda, 2014).
Pengertian kurikulum tersebut lambat laun memasuki dunia pendidikan secara bertahap dan berangsur-angsur. Makna kurikulum yang tadinya jarak yang harus ditempul oleh seorang pelari (runner) mulai dari garis start hingga garis finish kemudian digunakan dalam dunia pendidikan. Yaitu, seorang siswa harus mampu menyelesaikan sejumlah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah mulai ia menjadi seorang siswa sampai akhir studinya untuk mendapat ijazah. Jadi, berdasarkan pengertian diatas asal mula kurikulum dari bahasa Yunani yang berarti jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari dari start sampai garis finish, namun jika dalam pendidikan, yaitu belajar yang harus ditempuh seorang siswa dari awal sampai akhir pendidikannya.
b.      Secara Epistemologi
Menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 19 kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum pada hakekatnya adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan (Sukirman, 2012). Peter F. (dalam Juanda (2014) mengartikan kurikulum sebagai “curriculum is the plan or program for all experiences which the learner encounters under the direction of the school. Yang dapat diartikan bahwa kurikulum adalah rancangan atau program untuk semua kegiatan yang ditemui oleh siswa di bawah arahan sekolah. Sehingga, dapat disimpulkan kurikulum merupakan seperangkat perangkat yang terkait dengan isi, materi, dan tujuna yang ingin dicapi bersama dalam proses pembelajaran untuk mendapatkan hadiah yang menjadi tujuan pendidikan.

2.        Komponen Kurikulum

Terdapat empat komponen kurikulum yaitu, komponen tujuan, isi kurikulum, metode atau strategi dan komponen evaluasi. Pertama, komponen tujuan merupakan komponen pembentuk kurikulum yang berkaitan dengan hal-hal yang ingin dicapai atau hasil yang diharapkan dari kurikulum yang akan dijalankan. Kedua, isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada siswa dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program dari masing-masing bidang studi. Ketiga, komponen metode atau startegi meliputi rencana, metode dan perangkat yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Dan yang terakhir adalah evaluasi, komponen evaluasi merupakan bagian dari pembentuk kurikulum yang berperan sebagai cara untuk mengukur atau melihat apakah tujuan yang telah dibuat itu tercapaiatau tidak ( Kusuma, 2013).

3.        Kedudukan Kurikulum dalam Sistem Pendidikan

Nana Syaodiah S (dalam Anik Ghufron, 2008) menyatakan bahwa pada hakekatnya pendidikan berintikan interaksi edukatif antara pendidik dengan peserta didik. Interaksi edukatif tersebut bertujuan untuk mewujudkan aspek-aspek kurikulum yang berlaku untuk mencapai tujuan pendidikan yang terlah dirumuskan. Interasi edukatif tersebut juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan, dimana kegiatan pembelajaran terjadi.
Menurut Anik Ghufron (2008) kurikulum dapat dikatakan sebagai jantung kegiatan pendidikan. Artinya, aktivitas eduksi antara pendidik dan peserta didik sangat dipengaruhi oleh muatan-muatan yang ada dalam kurikulum. Tanpa adanya kurikulum, kiranya kegiatan pendidikan mustahil terjadi. Sejalan dengan Ornstein dan Hunkins (2018) yang menyatakan bahwa kurikulum sangat penting dalam keberlangsungan kegiatan baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat karena kurikulum merupakan hasil dari kegiatan sosial dan bersifat dinamis. Oleh karena itu, ketika seseorang hendak mengembangkan kurikulum seharusnya terlebih dahulu menetapkan aliran filsafat pendidikan mana yang hendak dijadikan landasan yang kokoh. Dengan landasan yang kokoh kurikulum yang dihasikan akan kuat, yaitu program pendidikan yang dihasilkan akan dapat mengasilkan manusia terdidik sesui dengan hakekat kemanusiaan, baik untuk kehidupan masa kini maupun menyongsing kehidupan jauh kemasa yang akan datang (Sukirman, 2012).

4.        Implementasi Kurikulum Terkait dengan Cabang Filsafat

Pengembangan dan implementasi kurikulum sebagai salah satu variabel pendidikan tidak dapat berdiri sendiri, akan tetapi terkait dengan landasan sebagai tempat berpijak, yakni filsafat. Filsafat memberi kejelasan arah pendidikan dan implementasi kurikulum terkait dengan cabang filsafat seperti: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi berkontribusi terhadap pendidikan dan implemetasi kurikulum terkait dengan yang akan dikaji. Epistemologi menuntun bagaimana cara mendapatkan pengetahuan, dan aksiologi membimbing bagaimana manusia mampu menempatkan nilai (value) sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan.

a.      Ontologi Kurikulum

Menurut bahasa ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu On/Ontos yang berarti ada, dan Logos yang berarti ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada (membahas segala sesuatu yang ada yang nampak (benda-benda material), dan yang tidak nampak (immaterial). Menurut Juanda (2014) ontologi adalah suatu kajian ilmu atau teori dari cabang filsafat yang membahas tentang realitas sebagai ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan serta penafsiran tentang hakikat realita atau metafisika dari obyek ontologi. Objek kajian filsafat meliputi objek material, dan objek formal.
Mengingat ontologi begitu luas (universal), pembahasan ontologi dipusatkan pada objek material dan objek formal kurikulum sebagai isi (materi) pendidikan. Yang termasuk objek material kurikulum termasuk yang nampak (empiris) dan yang tidak nampak (non empiris). Objek kurikulum yang empiris seperti: guru, peserta didik (siswa), lingkungan belajar, aktivitas belajar, bahan ajar, dokumen kurikulum, media belajar, pendekatan pembelajaran, hasil belajar, prestasi belajar, hubungan sosial antara sesama (guru dengan siswa, dan sisiswa dengan sesamaya), adat istiadat, budaya, tradisi/kebiasaan yang muncul di sekolah, infrastruktur sekolah, dan sebagainya. Kesemuanya ini sebagai objek material kurikulum. Sedangkan objek material kurikulum yang tidak nampak tidak empirik misalnya keyakinan/keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ideologi, keyakinan akan adanya makhluk-makhluk ghaib, dan keyakinan adanya surga dan neraka atau hal-hal yang termasuk spiritual.
Hal tersebut bisa diibaratkan dengan adanya kurikulum tertulis dan kurikulum tersembunyi (the hidden curriculum). Kurikulum tertulis termasuk kurikulum terencana atau terprogram yang siap dijarkan oleh guru melalui kegiatan pembelajaran yang resmi. Sementara kurikulum tersembunyi atau hidden curriculum secara eksplisit tidak dibicarakan atau ditulis oleh guru sebagaimana kurikulum yang direncanakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih khusus (objektif), yang dituangkan di dalam silabus atau dokumen sekolah. Sementara itu, objek formal kurikulum berkaitan dengan ilmu-ilmu atau disiplin ilmu yang mempelajari atau membahas objek material. Contohnya ilmu yang mempelajari tentang hubungan guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan lingkungan belajar adalah ilmu sosiologi.

b.      Epistemologi Kurikulum

Secara bahasa, epistemologi merupakan dua gabungan kata dari bahasa Yunani,yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan sedangkan logos lazim dipakai untuk menunjukkan adanya pengetahuansistematik. Dengan demikian epistemologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Menurut Juanda (2014) epistemologi merupakan teori filsafat yang mengkaji sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. Dengan demikian epistemologi termasuk cabang filsafat yang mempelajari bagaimana mendapatkan ilmu pengetahuan. Epistemologi buhubugan erat atau tidak dapat dipisahkan dengan kurikulum. Artinya, bagaimana para peserta didik mengkonstruk pengetahuan setelah pembelajaran dilakukan oleh guru.
Epistemologi diperlukan dalam pendidikan antaralain dalam hubungannya dengan penyusunan dasar kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan pada anak didik yang diajarkan di sekolah dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan dan cara menyempaikannya. Semua itu adalah epistemologinya pendidikan yang pada akhirnya berhubungan dengan kurikulum. Untuk contoh, lahirnya KBK, KTSP dan Kurikulum 2013 adalah salah satu usaha baik bagaimana pemerintah memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.
Contoh epistemologi terkait dengan pendidikan, kurikulum dan pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1)      Cara guru menanamkan nlai-nilai, moral, etika, dan atau akhlak mulia, kepada peserta didik agar mereka menjadi manusia Indonesia berbudi perkerti baik. Baik kepadaTuhan-Nya (taat dan patuh menjalan semua perintahnya), berbuat baik kepada sesama manusia, dan memiliki kepedulian terhadap alam semesta.
2)      Cara guru mengajar menggunakan berbagai model pembelajaran, metode, media, strategi. Guru mempermudah siswa mendapatkan pengetahuan baru.
3)      Cara guru meramu, memilih dan menentukan bahan ajar (materi) pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor siswa.
4)      Cara bagaimana guru melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan siswa mengikuti pembelajaran.
5)      Cara bagaimana guru menggunakan berbagai model pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi peserta didik.
6)      Cara bagaiamana guru melakukan pengukuran keberhasilan belajar peserta didik aspek kognitif,afektif dan psikomotor.
7)      Bagaimana guru melakukan evaluasi pembelajaran sesuai minat bakat dan kebutuhan belajar siswa.
8)      Bagaimana sekolah mengembangkan kurikulum muatan lokal (MULOK) sebagai ciri pengembangan kepribadian dan kreatifitas siswa secara inovatif.
9)      Bagaimana guru menafsirkan kurikulum tersembunyi (hidden curricullum) sebagai penunjang kurikulum formal (aktual).
10)  Bagaimana pihak sekolah melakukan hubungan baik dengan orang tua peserta didik, masyarakat dan perkembangan Iptek.
11)  Bagaimana sikap sekolah menyeleksi kemajuan IPTEK sebaga bahan ajar peserta didik yang tidak selamanya membawa dampak positif.

c.       Aksiologi Kurikulum

Aksiologi merupakan cabang ilmu filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya (Juanda, 2014). Aksiologi merupakan istilah yang berasal dari kata Yunani, yaitu axios yang berarti sesuai atau wajar dan logos yang berarti ilmu, aksiologi dipahami sebagai teori nilai (value). Nilai terbagi dua, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik contohnya pisau dikatakan baik karena mengandung kualitas pengirisan dan nilai instrumental ialah pisau yang baik adalah pisau yang digunakan untuk mengiris.
Beikut ini contoh penerapan aksiologi dalam pendidikan dan dan implementasi kurikulum. Contoh konkrit, kurikulum 2013 dikaji dengan kajian aksiologi, yaitu terletak pada manfaat yang akan dicapai bila kurikulum 2013 dilaksanakan. Peran guru atau pendidik adalah sebagai fasilitator dan tugasnya adalah merangsang atau memberikan stimulus, membantu peserta didik untuk mau belajar sendiri dan merumuskan pengertiannya. Sedangkan peran guru tidak hanya menjadi diktator yang hanya menekankan satu nilai satu jalan keluar, akan tetapi disini guru berperan sebagai fasilitator dan membebaskan peserta didik untuk berpikir, berkreasi dan berkembang.
Dasar aksiologis pendidikan adalah kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab (Arizal dalam Juanda, 2014). Dengan demikian, secara kontekstual peran aksiologi di dalam pendidikan dan kurikulum agar tujuan, proses, pemilihan bahan ajar, evaluasi di sesuaikan dengan nilai nilai (values) sehingga terbentuk peserta didik selain cerdas intelektualnya, juga cerdas spiritual, moral, dan sosialnya. Sehingga terbentuk peserta didik menjadi manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Esa, terapil, dan berakhlak mulia.

5.        Aliran Filsafat

Beberapa aliran filsafat yang mempunyai pengaruh besar terhadap kurikulum ialah filsafat idealisme, realisme, pragmatisme dan eksistensialisme. Berikut adalah tabel mengenai aliran-aliran filsafat yang berpengaruh terhadap kurikulum:
Tabel Sumbanga Filsafat terhadap Kurikulum
Aspek
Aliran
Idealisme
Realisme
Pragmatisme
Eksistensialisme
Realtias
Spiritual, moral atau material tidak berubah /tetap
Didasarkan pada hukum alam bersifat objektif dan penekanan pada materi
Intraksi individu dengan lingkungan, realitas selalu berubah
Subjektif
Pengetahuan
Pengembangan kecerdasan ide-ide
Diperoleh dengan cara sensasi dan abstraksi
Disamping pengalaman juga menggunakan model ilmiah
Pengetahuan didasarkan kepada pemilihan pribadi
Nilai
Mutlak dan abadi
Mutlak dan abadi disamping itu menerima hukum alam
Tergantung situasi, relative, subjek berubah dan pembutian
Bebas memilih disaping berdasarkan persepsi individu
Tugas Guru
Mengajarkan pengetahuan spiritual dan moral
Melatih berfikir rasional, moral, spiritual, dan guru sebagai sumber otoriter
Mengusahakan kemampuan berfikir kritis dan proses sains
Mengusahakan berfikir kritis dan proses sains
Tekanan Pembelajaran
Mengajarkan kembali pengetahuan dan ide-ide, berfikir abstrak sebagai pembentukan berfikir tingkat tinggi
Melatih berfikir logis dan berfikir abstrak sebagai berfikir tingkat tinggi
Metode transaksi untuk mengubah lingungan dan penjelasan sains
Metode transaksi untuk mengubah lingkungan dan pengalaman sains
Tekanan Kurikulum
Pengetahuan materi klasik atau luberal art. Tingkat-tingkat materi pelajaran filsafat, teologi, dan matematika sangat dipenting
Pengetahuan pelajaran seni, sains, humanistic, dan penelitian ilmiah
Pengetahuan atau materi berubah, penekanan pada pengealaman, transmisi budaya, dan mempersiapkan individu melakuan perubahan, topik pada pemecahan masalah
Materi pelajaran berdasarkan pilihan, eklektif, emosional, estetika dan filsafat sebagai materi utama
(Juanda ,2014)

6.        Aliran Filsafat sebagai landasan pengembangan kurikulum

Aliran filsafat yang sebelumnya telah dijelaskan digunakan sebagai landasan aliran filsafat pengebangan kurikulum. Aliran filsafat sebagai landasan pengembangan kurikulum adalah Perenialisme, Essensialisme, Progressivisme, dan Rekonstruksionisme. Berikut adalah tabel  aliran-aliran filsafat sebagai landasan perkembangan kurikulum:
Tabel Empat Aliran Filsafat Pendidikan dalam Beberapa Aspek
Aspek
Aliran Filsafat
Perenialisme
Essensialisme
Progressivisme
Rekonstruksionisme
Akar Filsafat
Realisme
Idealisme dan realisme
Pragmatisme
Pragmatisme
Tujuan Pendidikan
Mendidik anak rasiona dan intelektual
Anak berkembang intelektualnya dan kompeten
Anak hidup demokratis
Rekonstruksi masyarakat
Pengetahuan
Pengetahuan permanen
Keterampilan esensial dan pengetahuan dasar
Pengetahuan hidup demokratis
Pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat saat ini
Isi Kurikulum
Mata pelajaran klasik
Mata pelajaran esensial
Mata pelajaran interdisipliner
Isu-isu dalam ilmu-ilmu sosial
Peran Guru
Membatu siswa berfikit rasional
Otorita
Pembimbing atau fasilitator
Agen perubahan
Metode
Ekspositoris
Tradisional
Problem Solving
Problem Solving
(Anik Ghufron, 2008)

7.        Landasan filosofi perkembangan kurikulum di Indonesia

Meskipun banyak aliran filsafat pendidikan yang dapat dijadikan sebagai referensi oleh para pengembang kurikulum dalam melaksanakan tugasnya, akan tetapi sebagia bangsa Indonesia harus tetap komitmen untuk menggunakan Pancasila sebagai landasan filosofi dalam pengembangan kurikulum pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Sila-sila Pancasila perlu dijadikan acuan dalam merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kurikulum. Jadi, landasan perkembangan kurikulum di Indonesia adalah Pancasila.
Perkembangan kurikulum dapat menggunakan dan menerapkan nilai-nilai yang terkanding setiap sila dari Pancasila ketika merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kurikulum. Selain itu, nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila dapat digunakan untuk mengetahui tingkat ketercapaian langkah-langkah dan aspek-aspek kurikulum yang berlaku di setiap jenjang dan jenis pendidikan (Anik Ghufron, 2008). Apabila para pengembang kurikulum menggunakan sila-sila Pancasila untuk merancang, mengimplementasikan dan mengevaluasi kurikulum secara konsiten diyakini bahwa tidak akan terjadi pola pembelajaran yang mengabaikan kultur bangsa. Dengan demikian, para pengembang kurikulum dapat melaksanakan tugasnya dalam upaya memanusiakan manusia.


8. Referensi

Anik Ghufron. (2008). Fondasia - Filsafat Pengembangan Kurikulum.pdf (Vol. 1).
Depdiknas. (2003). Undang-undang RI No.20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.
Juanda, A.(2014). Landasan Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: CV. Confident.
Kusuma, D. C. (2013). “Analisis Komponen-Komponen Pengembangan Kurikulum 2013 pada Bahan Uji Publik Kurikulum 2013”, Jurnal Analisis Komponen-Komponen Pengembangan Kurikulum 2013, 1-21
Ornstein, A. C., & Hunkins, F. P. (2018). Curriculum: Foundations, Principles, and Issues, 7th edition.

Sukirman, D. (2012). Landasan pengembangan kurikulum. Universitas Pendidikan Indonesia, 18–44. https://doi.org/10.1303/jjaez.2014.351

Komentar

  1. Oooo gitu, terimakasih ilmunya kak

    BalasHapus
  2. Nambah pengetahuan lagi sipp tingkyu

    BalasHapus
  3. Sepakat dengan tetap mengedepankam pancasila dlam pngembangan kurikulum karena hal tersebut sebagai wadah adanya pendidikan dengan keberagaman yg ada di indonesia.

    BalasHapus
  4. Wah menarik, thanks untuk ilmunya, ditunggu ilmu-ilmu selanjutnya kak😄

    BalasHapus
  5. Memang menarik ketika perkembangan kurikulum dapat menggunakan dan menerapkan nilai-nilai yang terkanding setiap sila dari Pancasila ketika merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kurikulum. Namun sangat perlu ditindaklanjuti dilapangan, karena terkadang hal-hal yang menarik dan bermaksud baik baik kedepannya berbanding terbalik ketika implementasi hanya tertuang dalam tulisan bukan diimplementasikan secara real.

    BalasHapus
  6. Kurikulum itu merupakan inti dari dunia pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Tidak dapat dielakkan bawah kurikulum merupakan hal yang penting dalam pembelajaran. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan , maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Terima kasih untuk informasinya bahawa landasan perkemabangan kurikulum di Indonesai adalah berdasarkan Pancasila yang kita tahu bahwa Pancasila juga berupadakan dasar negara kita.

    BalasHapus
  7. Kurikulum itu merupakan inti dari dunia pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Tidak dapat dielakkan bawah kurikulum merupakan hal yang penting dalam pembelajaran. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan , maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Terima kasih untuk informasinya bahawa landasan perkemabangan kurikulum di Indonesai adalah berdasarkan Pancasila yang kita tahu bahwa Pancasila juga berupadakan dasar negara kita.

    BalasHapus
  8. Mantab. Uraiannya lengkap. Jadi lebih paham tentang landasan filosofi perkembangan kurikulum di Indonesia, tetap mengedepankan nilai-nilai Pancasila

    BalasHapus
  9. Terima kasih kak atas informasinya, saya jadi mengerti bahwa pengembangan kurikulum di Indonesia selalu berdasarkan Pancasila. Tinggal bagian mana yang ditekankan pada perubahan atau pengembangannya saja.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Marsigit Daya Matematika 2020 - Melania : Refleksi ke-9 : Berdaya Matematika dalam Pemahaman Matematis dengan Pembelajaran Online

Marsigit 2020 Daya Matematika - Melania | Refleksi ke-1 : Mengenal "Fallibism"