Marsigit Daya Matematika 2020 Melania | Refleksi ke-5 : Pandangan Filsafat Daya Matematika
Pandangan Fisafat Teehadap Daya Matematika
Melania Desta Maharani
19709251048
Imanuel Kant ( 1724 – 1804 ) : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan.
- Apakah yang dapat kita kerjakan ?(jawabannya metafisika )
- Apakah yang seharusnya kita kerjakan (jawabannya Etika )
- Sampai dimanakah harapan kita ?(jawabannya Agama )
- Apakah yang dinamakan manusia ? (jawabannya Antropologi )
Dalam berdaya matematika pun dapat dipandang dari sisi filsafat. Pandangan tersebut adalah ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Apa yang akan dibahas, dikaji, dan menjadi hakikat daya matematika merupakan ontologi dari daya matematika. Kemudian, bagaimana cara mencapai hakikat, sumbernya apa dan apa saja konten dari daya matematika merupakan epistemologi dari daya matematika. Sarangkan pandangan aksiologi membicarakan bagaimana ke bermaknaan dari data matematika itu sendiri. Pandangan satu dengan yang lainnya saling berkaitan.
Menurut NCTM (NCTM, 1989) daya matematis yang perlu dievaluasi meliputi
kemampuan siswa dalam hal: menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam
menyelesaikan permasalahan baik dalam matematika ataupun di luar matematika (aspek
pemecahan masalah); menggunakan bahasa matematis untuk mengomunikasikan gagasan
(aspek komunikasi matematis); menggunakan penalaran dan analisis (aspek penalaran
matematis); pengetahuan dan pemahaman terhadap kaitan antar konsep dan prosedur
matematis (aspek koneksi matematis); dan disposisi terhadap matematika. Proses
mengevaluasi daya matematis tak hanya mengukur tentang banyaknya pengetahuan yang
dimiliki siswa, tetapi juga mencakup seberapa jauh siswa dapat mengintegrasikan berbagai
aspek daya matematis tersebut secara fleksibel, misalnya, kapan perlu menerapkan penalaran, kapan pula perlu mengomunikasikan gagasan, dan seterusnya dalam situasi
yang relevan.
Meskipun proses mengevaluasi aspek-aspek daya matematis itu tak bisa secara
terpisah dan terisolasi, beberapa peneliti (Kastberg, D’Ambrosio, Mcdermott &
Saada, 2005; Rowan & Robles, 1998) menyarankan penggunaan, misalnya, pertanyaan-pertanyaan yang dapat menggali tiap aspek daya matematis secara spesifik. Misalnya,
untuk mengevaluasi aspek penalaran matematis, pertanyaan-pertanyaan yang dapat
diajukan, di antaranya, adalah pertanyaan tentang pola yang terbentuk dari susunan barisan
bilangan tertentu, tentang alasan yang mendasari dari langkah-langkah proses penyelesaian
soal dan pembuktian matematis.
Referensi :
Kastberg, S. E., D’Ambrosio, B., Mcdermot, G., & Saada, N. (2005). Contexts matters in
assessing students’ mathematical power. For the Learning of Mathematics, 25(2), 10
–15.
NCTM (1989). Principles and standards for school mathematics: Evaluation standard 4-
Mathematical power.
Rowan, T.E., & Robles, J. (1998). Using questions to help children build mathematical
power. Teaching Children Mathematics, 4(9), 504 – 509.
Komentar
Posting Komentar